Jaket yang Menghilang

 Pagi yang diguyur hujan membuat suasana hati Rere semakin kacau. Sejak bangun tidur, semuanya terasa salah. Belum lagi sebelum berangkat sekolah, ia sempat bertengkar dengan ibunya hanya karena jaketnya hilang.

“Aku yakin banget Ibu yang mindahin jaket Rere!” katanya dengan nada tinggi.

Ibunya menatapnya lembut tapi lelah. “Ibu tidak menyentuhnya, Rere. Coba ingat lagi, mungkin kamu yang lupa simpan.”

“Enggak! Ibu pasti yang ambil!”

Kamal, kakaknya, mencoba masuk. “Re, jangan nyalahin Ibu terus. Cari dulu, siapa tahu kamu taruh sembarangan.”

Rere mendesah keras. “Kakak juga nggak percaya sama Rere.”

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung pergi sambil menahan tangis dan kesal.

Di jalan, hujan makin deras. Rere berjalan cepat karena takut semakin terlambat. Jalanan tergenang air, tapi ia tidak peduli. Sampai akhirnya ia menginjak lubang yang tertutup air. Kakinya masuk cukup dalam, dan tubuhnya seperti terseret. Tiba-tiba pandangannya gelap.

Saat membuka mata, ia benar-benar bingung. Ia berada di ruang tamu yang terlihat sangat akrab. Ketika melihat lebih dekat, ia terkejut bukan main. Di hadapannya ada dirinya sendiri versi kecil, duduk di lantai sambil tertawa bersama Kamal kecil.

“Ini… gimana bisa?” gumamnya.

Dari dapur, terdengar suara ibunya. “Anak-anak, sarapan dulu, ya. Nanti baru main.”

“Iya, Bu!” jawab Rere kecil dengan suara ceria.

Kamal kecil mendekat sambil membawa piring. “Rere, bantu Kakak pindah makanan ke meja, yuk.”

“Baik!” sahutnya sambil berlari kecil.

Rere yang sekarang hanya berdiri memandangi mereka. Ia melihat ibunya yang sabar luar biasa, tetap tersenyum meski sibuk. Melihat itu semua membuat dada Rere terasa berat. Ia sadar betapa sayangnya ibunya pada mereka.

“Tadi aku… nyalahin Ibu gitu aja,” bisiknya, suara gemetar.

Tiba-tiba suara Rere kecil terdengar samar, seolah berbisik langsung ke telinganya, “Jangan cepat marah. Jangan buru-buru nyalahin orang.”

Pandangan Rere kembali menggelap. Ketika ia sadar, ia sudah berdiri di jalan yang sama, basah kuyup, dekat lubang yang tadi membuatnya terjatuh. Jantungnya berdegup cepat. Tanpa pikir panjang, ia memutuskan pulang.

Sesampainya di rumah, ia langsung mendekati ibunya yang sedang merapikan meja makan. “Bu… Rere minta maaf. Tadi Rere salah. Jaketnya Rere sendiri yang lupa naruh.”

Ibunya memeluknya pelan. “Tidak apa-apa, Nak. Ibu senang kamu sudah bicara jujur.”

Kamal ikut muncul dari kamarnya sambil tersenyum. “Nah, gitu dong. Jangan meledak dulu kalau lagi panik.”

Rere tersenyum kecil. “Iya, Kak. Terima kasih ya… dari tadi udah coba nenangin.”

Sejak kejadian itu, Rere benar-benar mengerti bahwa marah tanpa berpikir bisa melukai orang yang sebenarnya paling sayang padanya. Ia belajar kalau mengakui kesalahan itu jauh lebih baik daripada mempertahankan emosi yang cuma bikin rumit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengecoran Jalan untuk Meningkatkaп Akses dan Kenyamanan Warga di Tanimulya - Haji Gofur